MENGENDALIKAN PENYAKIT MOLER / NGINUL DAN LODOH / BERCAK UNGU

Tanaman bawang merah ( allium cepa var ascalonicum ) merupakan tanaman untuk bumbu dapur dan juga sering digunakan sebagai obat tradisional oleh ibu ibu. Selain itu tanaman ini juga mempunyai nilai cukup strategis karena permintaan yang tinggi.
Namun didalam budidayanya sangat banyak kendalanya terutama yang disebabkan oleh hama penyakit,Hama penyakit yang sulit dikendalikan tidak jarang menyebabkan panen gagal total yang merugikan petani. faktor kegagalan dalam pengendalian hama penyakit lebih banyak disebabkan kurang tahunya petani dalam menggunakan pestisida sehingga terjadi kesalahan  peruntukannya. Disamping iitu hama ppenyakit yang menyerangnya juga sudah resisten atau kebal terhadap bahan aktif pestisida sintetik,hal ini terjadi karena penggunaan yang monoton tidak di selang seling dengan bahan aktif yang berbeda.

Beberapa penyakit penting yang sering menyebabkan kegagalan panen namun ada dua penyakit yang sangat sulit dikendalikan oleh petani dan lebih sering menyebabkan gagal panen. Penyakit itu antara lain

Ngoser / moler
Penyakit ini ada dua macam ngoser / nginul tapi tidak layu,ini disebabkan oleh cendawan antraknosa serangannya sangat cepat terutama bila kelembabpan tinggi. Yang kedua ngoser / nginul tapi layu ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum f. sp cepae. Penyakit ini lebih banyak menyerang tanaman pada umur kisaran 25 – 40 hst. PH tanah yang rendah serangan akan lebih ganas dan cepat.
Pengendalian penyakit ini ada dua macam yaitu pengendalian secara preventif dan kuratif.
A. Pengendalian Preventif
> Lahan yang sudah siap ditanami 3 hari sebelum tanam lahan difumigasi dengan Clearopt dengan dosis 2 liter per ha. Pada saat aplikasi aplikasi tambahkan Irengan 30 lt / ha yang berfungsi untuk membuat lahan menjadi gembur atau remah,ketersedian oksigen dlam tanah cukup,menaikkan Ph tanah menjadi netral ( ph 7 ),merangsang akar tanam muda tumbuh lebih cepat,dan menyimpan air sehingga tanah tidak mudah kering bila musim kemarau.
> Sebelum bibit ditanam direndam dulu dalam air yang sudah diberi fungisida Mikocide 70 wsc, selama 30 menit dengan dosis 1 ml / lt.
B. Pengendalian Kuratif
>
 Tanaman yang terserang ringan segera disemprot dengan Mikcode 70 wsc ditambah penembus p3 dengan dosis aplikasi 2 ml /lt.
Penyemprotan sebaiknyapada pagi hari setelah matahari terbit karena fungisida ini mempunyai karakter bahan aktif akan meningkat bila terkena panas matahari.
> Interval penyemprotan 2 hari sekali sebanyak 3 kali aplikasi atau 6 hari disemprot 3 kali.
> Gunakan air bersih dan steril atau air tanah ( sumur ) jangan menggunakan air keruh akan bahan aktifnya akan terikat di partikel lumpur yang ada di air keruh. Penggunaan air sungai atau irigasi juga sangat beresiko karena airnya sudah terkontaminasi penyakit dari hulu,
> Bila serangan penyakit berat gunakan Detacide 60 sg yang dimix dengan Clearopt 120 sc dan penembus p3. dengan dosis masing masing 2 gr/ lt detacide, 2.5 ml / lt clearopt dan 0.5 ml / lt p3.
>  Setelah serangan penyakit berhenti  segera berikan pupuk berkonsentrasi Pospat dan kalium yang tinggi dan pupuk mikro.

B. Lodoh ( Nglulup, Bercak ungu )
Penyakit inii disebabkan oleh cendawan alternaria porii, ciri tanaman yang terserang penyaki ini pada daun yang terserang terdapat trotol yang berwarna kelabu keunguan yang dalamnya tampak terlihat garis melingkar seperti cincin.
Pengendalian ada dua macam cara yaitu preventif dan kuratif.
A. Pengendalian Preventif sama dengan pengendalian penyakit ngoser/moler/nginul.
B. Pengendalian Kuratif
> Tanaman yang terserang semprot dengan Detacide 60 sg mix dengan penembus p3 dengan dosis 2 gr / lt dan 0.5 ml /lt
> Penyemprotan dilakukan pagi setelah matahri terbit
> Interval penyemprotan 2 hari sekali sebanyak 3 kali aplikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.